ASUHAN
KEPERAWATAN DENGAN PERILAKU KEKERASAN (EKSPRESI MARAH)
Dosen Pengampu : Ahmad
Zakiudin, SKM.,S,Kep.,M.Kep
Disusun Oleh :
1. Ajeng
Komala Dewi
2. Elok
Azizatul F
3. Eva
Zulpatun N.
4. Ines
Nendya Wulandari
5. Novaliana
Ayu A
AKADEMI
KEPERAWATAN AL HIKMAH 02
BENDA
SIRAMPOG BREBES
2018
Segala puji dan syukur kami penyusun
ucapkan kepada Allah SWT, yang mana telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
kepada kita semua, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
“Asuhan Keperawatan Dengan Perilaku Kekerasan (Ekspresi Marah)”. sebagai
kegiatan dan salah satu tugas serta bahan pembelajaran pada bidang Keperawatan
Jiwa.
Dalam penyusunan makalah ini kami
menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami sebagai penulis dan
penyusun, baik kekurangan dalam isi maupun penyusunannya. Oleh karena itu, kami
sangat mengharapkan kritik dan saran-saran yang sangat membangun dari pembaca.
Pada kesempatan ini pula kami
sebagai penulis dan penyusun menyampaikan terima kasih kepada dosen pengajar
yang telah membimbing kami dalam penulisan makalah serta teman-teman sekalian
yang telah membantu kelancaran penulisan.
Brebes, 17 September 2018
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Gangguan jiwa pada mulanya dianggap suatu yang gaib, sehingga penanganannya
secara supranatural spiristik yaitu hal-hal yang berhubungan dengan kekuatan
gaib. Gangguan jiwa merupakan suatu gangguan yang terjadi pada unsur jiwa yang
manifestasinya pada kesadaran, emosi, persepsi, dan intelegensi. Salah satu
gangguan jiwa tersebut adalah gangguan perilaku kekerasan.
Marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai suatu respon terhadap
kecemasan yang dirasakansebagai ancaman individu. Pengungkapan kemarahan dengan
langsung dan konstruksif pada saat terjadi dapat melegakan individu dan
membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya sehingga individu
tidak mengalami kecemasan, stress, dan merasa bersalah dan bahkan merusak diri
sendiri, orang lain dan lingkungan. Dalam hal ini, peran serta keluarga sangat
penting, namun perawatan merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan jiwa.
B.
Tujuan
Penulisan
1. Tujuan umum
Setelah membahas kasus ini diharapkan mengerti dan memberikan asuhan
keperawatan pada pasien perilaku kekerasan.
2.
Tujuan Khusus
Setelah menyusun makalah ini diharapkan mahasiswa mampu :
a. Melakukan
pengkajian pada klien dengan perilaku kekerasan
b. Merumuskan
diagnosa untuk klien dengan perilaku kekerasan
c. Membuat
perencanaan untuk klien dengan perilaku kekerasan
d. Melakukan
implementasi pada klien dengan perilaku kekerasan
e. Membuat
evaluasi pada klien dengan perilaku kekerasan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Marah
Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul
sebagai respons terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Keliat,
1996). Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit
sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan
langsung dan konstruktif pada waktu terjadi akan melegakan individu dan
membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya. Untuk itu perawat
harus pula mengetahui tentang respons kemarahan sesorang dan fungsi positif
marah.
Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari
segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan
frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu
frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak
terpenuhi.
1. Frustasi: sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan atau keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa
terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan
cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan
kekerasan.
2. Hilangnya harga diri: pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan
yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu
tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas
tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
3. Kebutuhan akan status dan prestise: Manusia pada umumnya mempunyai keinginan
untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.
Tanda dan
Gejala:
1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap
penyakit (rambut botak karena terapi)
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
3. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
4. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
5.
Mencederai diri (akibat dari
harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan
mengakiri kehidupannya. (Budiana Keliat, 1999)
B.
Pengertian Perilaku Kekerasan
Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku
yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis
(Berkowitz, 1993). Berdasarkan defenisi ini maka perilaku kekerasan dapat
dibagi dua menjadi perilaku kekerasan scara verbal dan fisik (Keltner et al,
1995). Sedangkan marah tidak harus memiliki tujuan khusus. Marah lebih menunjuk
kepada suatu perangkat perasaan-perasaan tertentu yang biasanya disebut dengan
perasaan marah (Berkowitz, 1993).
Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan
resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai
merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri,
orang lain dan lingkungan.
Tanda dan
Gejala :
1. Memperlihatkan permusuhan
2. Mendekati orang lain dengan ancaman
3. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
4. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
5.
Mempunyai rencana untuk melukai
C.
Rentang Respons Marah
Respons kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang
adaptif – mal adaptif. Rentang respon kemarahan dapat digambarkan sebagai
berikut :
1. Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang
lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.
2. Frustasi adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau
keinginan. Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan. Akibat
dari ancaman tersebut dapat menimbulkan kemarahan.
3. Pasif adalah respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan
yang dialami.
4. Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol
oleh individu. Orang agresif biasanya tidak mau mengetahui hak orang lain. Dia
berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan
sendiri dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain.
5.
Mengamuk adalah rasa marah dan
bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. Pada keadaan ini
individu dapat merusak dirinya sendiri maupun terhadap orang lain (Keliat,
1997).
D.
Faktor Predisposisi
Faktor
psikologis
1. Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami
hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotifasi PK.
2.
Berdasarkan penggunaan mekanisme
koping individu dan masa kecil yang tidak menyenangkan
3. Frustasi.
4. Kekerasan dalam rumah atau keluarga.
E.
Faktor Presipitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya
merasa terancam, baik berupa injury secara fisik, psikis, atau ancaman konsep
diri. Beberapa faktor pencetus perilaku kekerasan adalah sebagai berikut.
1. Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kehidupan yang penuh
agresif, dan masa lalu yang tidak menyenangkan.
2. Interaksi : penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik, merasa
terancam, baik internal dari perusahaan diri klien sendiri maupun eksternal
dari lingkungan.
3. Lingkungan : panas, padat, dan bising.
a. Tanda dan gejala
1) Fisik
2) Mata melotot
3) Pandangan tajam
4) Tangan mengepal
5) Rahang mengatup
6) Wajah memerah
7) Postur tubuh kaku
b.
Verbal
1) Mengancam
2) Mengumpat dengan kata-kata kotor
3) Suara keras
4) Bicara kasar, ketus
c.
Perilaku
1) Menyerang orang
2) Melukai diri sendiri/orang lain
3) Merusak lingkungan
4) Amuk/agresif
F.
Proses Marah
Stress, cemas, marah merupakan bagian kehidupan
sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat menyebabkan
kecemasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan
dapat menimbulkan kemarahan.
G.
Gejala Marah
Kemarahan dinyatakan dalam berbagai bentuk, ada
yang menimbulkan pengrusakan, tetapi ada juga yang hanya diam seribu bahasa.
Gejala-gejala atau perubahan-perubahan yang timbul pada klien dalam keadaan
marah diantaranya adalah:
1) Perubahan fisiologik : Tekanan darah meningkat, denyut nadi dan pernapasan
meningkat, tonus otot meningkat, mual, frekuensi buang air besar meningkat,
kadang-kadang konstipasi, refleks tendon tinggi.
2) Perubahan emosional : Mudah tersinggung , tidak sabar, frustasi, ekspresi
wajah nampak tegang, bila mengamuk kehilangan kontrol diri.
3) Perubahan perilaku : Agresif pasif, menarik diri, bermusuhan, sinis,
curiga, mengamuk, nada suara keras dan kasar.
H.
Perilaku Kekerasan
Perilaku yang
berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :
1. Menyerang atau menghindar (fight of
flight)
Pada keadaan ini respon
fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom beraksi terhadap sekresi
epinephrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah,
pupil melebar, sekresi HCl meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran
urine dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga meningkat diserta
ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku
dan disertai reflek yang cepat.
2.
Menyatakan secara asertif
(assertiveness)
Perilaku yang sering ditampilkan
individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif,
agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk
mengekspresikan marah karena individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa
menyakiti orang lain secara fisik maupun psikolgis. Di samping itu perilaku ini
dapat juga untuk pengembangan diri klien.
3.
Memberontak (acting out)
Perilaku yang muncul biasanya
disertai akibat konflik perilaku “acting out” untuk menarik perhatian orang
lain.
4.
Perilaku kekerasan
Tindakan
kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan.
I.
Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan
pada penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan
mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. (Stuart dan Sundeen,
1998 hal 33).
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang
timbul karena adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien
marah untuk melindungi diri antara lain:
1. Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata
masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara
normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada
obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya
adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
2. Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya
yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia
mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa
temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.
3. Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam
sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak
disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak
kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh
Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat
melupakannya.
4. Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan,
dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya
sebagai rintangan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan
memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
5. Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada
obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan
emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat
hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain
perang-perangan dengan temannya.
BAB III
TINJAUAN KASUS
Tanggal Pengkajian : 15 Januari
2013
Tanggal Masuk : 26
Desember 2012
Ruang : Perkasa
A.
PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Nama :
Tn. H
Alamat : Jombor, Ceper, Klaten
Umur :
25 Tahun
Jenis Kelamin :
Laki - laki
Status :
Belum Menikah
Agama : Islam
Pendidikan : SMP (Putus
Sekolah)
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
No. CM : 01 13 28
Identitas Penanggung
Jawab
Nama :
Tn. W
Umur :
57 Tahun
Agama :
Islam
Pekerjaan :
Wiraswasta
Alamat : Jombor, Ceper, Klaten
Hubungan dengan Klien : Ayah Kandung
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Klien mengatakan tidak bisa tidur akibat tidak minum obat, mondar
mandir, dan suka mengancam. Klien mengatakan masih merasa jengkel dan marah
jika keinginanya tidak terpenuhi, saat marah atau jengkel pasien mengamuk dan
memukul pintu / jendela.
b. Alasan Masuk
±4 hari sebelum masuk rumah sakit klien dirumah
bingung, agresif, labil, gelisah dan tidak mengontrol diri. Klien
juga marah marah dan memukul ayahnya karena klien merasa dibohongi dan
keinginanya tidak dipenuhi. Kemudian oleh keluarga, klien dibawa ke RSJD Klaten untuk kembali
di rawat inap.
c. Faktor Predisposisi
1) Klien mengalami gangguan jiwa sejak 11 tahun yang lalu dan pernah masuk
rumah sakit jiwa klaten >35x.
2) Tidak mau kontrol, dan putus obat selama 1 minggu.
3) Klien mengatakan bahwa anggota keluarganya tidak ada yang mengalami
gangguan jiwa.
4) Klien mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan yaitu masuk penjara
selama 3 minggu karena mencoba membobol ATM.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda – tanda Vital :
Tekanan darah : 120 / 80 mmHg
Nadi : 78 x/menit
Suhu badan : 36.4 0C
Respirasi : 23 x/menit
b. Tinggi Badan : 168 cm
c. Berat badan :
70 Kg
d. Kondisi Fisik
Klien mengatakan kondisi tubuhnya saat ini baik
– baik saja dan tidak ada keluhan fisik.
4. Psikososial
a. Genogram

Keterangan :
Klien
b. Konsep diri
1) Citra tubuh
Klien memandang terhadap dirinya ada bagian tubuh yang paling
istimewa atau yang paling disukainya adalah bagian wajah, karena klien merasa
wajahnya tampan..
2) Identitas diri
Klien mempersepsikan dirinya sebagai laki –
laki dewasa dan belum menikah dan klien anak ke dua dari lima bersaudara.
3) Peran
Klien mengatakan bahwa dalam keluarganya adalah
anak yang di saying dilingkungan masyarakat. klien juga aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti gotong royong,
pengajian, pemuda dll.
4) Ideal diri
Klien mengatakan menerima statusnya sebagai seorang anak, dan ingin
cepat pulang biar bisa bekerja dan menjadi orang kaya.
5) Harga diri
Klien mengatakan hubungan yang paling dekat, di sayang dan dapat di
percaya adalah ayah dan adiknya.
5. Hubungan Sosial
1) Orang yang terdekat
Klien mengatakan mengatakan mempunyai orang yang
berarti yaitu ayah dan adiknya, apabila ada masalah klien memilih diam diri dan
memendamnya. Didalam keluarganya ayah dan adik adalah orang yang dipercaya oleh
klien.
2) Peran serta dalam kegiatan kelompok atau masyarakat
Klien mengatakan dalam masyarakat klien sering mengikuti kegiatan
gotong royong, pengajian, arisan, pemuda, setelah
dirumah sakit klien juga mengikuti kegiatan sosial seperti bersosialisasi
dengan teman-teman satu bangsalnya.
3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien mengatakan tidak ada hambatan dalam berhubungan dengan orang
lain, setelah di rumah sakit hubungan klien dengan klien yang satu tidak ada
masalah.
6. Spiritual
Klien mengatakan beragama islam dan klien mengatakan saat di rumah
tidak rutin beribadah dan saat di rumah sakit klien tidak beribadah karena
merasa kalau doanya tidak pernah di kabulkan dan semua itu sia-sia.
7. Mekanisme Koping
a. Klien mampu berkomunikasi dengan orang lain.
b. Klien mampu mengatasi masalah ringan seperti menjaga kebersihan diri dan
menyiapkan makanan.
8. Masalah Psikososial dan Lingkungan
a. Masalah dengan dukungan kelompok (-)
b. Masalah berhubungan dengan lingkungan klien agak menarik diri dengan
lingkungan.
c. MK : Harga Diri Rendah
d. Masalah dengan kesehatan (-)
e. Masalah dengan perumahan, klien tinggal dengan ayah dan adiknya.
f. Masalah dengan ekonomi, kebutuhan klien di penuhi oleh ayahnya.
9. Aspek Medik
Terapi obat :
a. Inj. Lodomer :
1amp IM extra
b. Trihexiyl Phenidyl : 3 x 2 mg
c. Haloperidol :
3 x 5 mg
d. Resperidon :
2 x 2 mg
B. MASALAH KEPERAWATAN
1. Prilaku kekerasan
2. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan
3. Harga diri rendah
4. Disstres spiritual
C. ANALISA DATA
NO
|
DATA
|
ETIOLOGI
|
PROBLEM
|
1
|
DS : Klien mengatakan dirumah marah-marah kepada
ayahnya karena keinginanya tidak dipenuhi dan merasa dibohongi. Serta klien
memukul ayahnya sampai berdarah.
DO : Wajah tegang, mudah tersinggung saat di
ajak bicara, tatapan mata tajam, muka tampak merah.
|
Perilaku kekerasan
|
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain
dan lingkungan
|
2
|
DS : Klien
mengatakan saat mempunyai masalah di pendam sendiri, tidak mau bercerita.
DO : Pasien tidak banyak bicara, pasien
berdiam diri
|
Koping individu tidak efektif
|
Perilaku kekerasan
|
D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, lingkungan berhubungan dengan
perilaku kekerasan
2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan koping individu tidak efektif
E. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa
|
Tujuan
|
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Resiko
menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
|
TUM:
Klien dapat
melanjutkan peran sesuai dengan tanggung jawab.
TUK 1:
Klien dapat
membina hubungan saling percaya.
TUK 2:
Klien dapat
mengidentifikasi kemampuan penyebab kekerasan
TUK 3 :
Klien dapat
mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
TUK 4;
Klien dapat
mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
TUK 5;
Klien dapat
mengidentikasi akibat perilaku kekerasan
TUK 6 :
Klien dapat
mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan
TUK 7 :
Klien dapat
menggunakan obat dengan benar (sesuai dengan program)
|
1. Klien mau membalas salam
2. Klien mau
menjabat tangan
3. Klien mau
menyebut nama
4. Klien mau
tersenyum
5. Klien mau kontak
mata
6. Klien mau
mengetahui nama perawat
1. Klien dapat mengung-
kapkan perasaannya
2. Klien dapat
mengung-kapkan penyebab perasaan marah dari lingkungan atau orang lain
1. Klien mampu
mengungkapkan perasaan saat marah/jengkel
2. Klien dapat
menyimpulkan tanda-tanda marah yang dialami.
1. Klien dapat
mengung kapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
2. Klien dapat
bermain peran dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
3. Klien dapat
mengetahui cara yang biasa dilakukan untuk menyelesaikan masalah
1. Klien dapat
menjelaskan akibat dari cara yang digunakan
- Akibat pada klien sendiri
- Akibat pada orang lain
- Akibat pada lingkungan
1.
Klien dapat menyebut kan contoh
pencega han perilaku kekera san secara :
- Fisik: tarik nafas dalam, olah raga, memukul
bantal
- Verbal: mengata kan secara langsung dengan
tidak menyakiti.
2. Klien dapat
mendemonstrasikan cara fisik (memukul bantal) untuk mencegah perilaku
kekerasan.
1. Klien dapat
menyebut kan obat – obat yang di minum dan kegunaanya (jenis, waktu, dosis, dan
efek)
2. Klien dapat
minum obat sesuai program pengobatan
|
1.
Beri salam panggil nama
2.
Sebutkan nama perawat sambil jabat
tangan
3.
Jelaskan maksud hubungan interaksi
4.
Jelaskan kontrak yang akan dibahas
5.
Beri rasa aman dan simpati
6.
Lakukan kontak mata singkat tapi
sering
1.
Beri kesempatan untuk mengung kapkan
perasaan
2.
Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab
perasaan jengkel/kesal
3.
Anjurkan klien mengungkapkan apa yang
dialami dan dirasakan saat marah
4. Observasi
tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien
5. Simpulkan
bersama klien tanda dan gejala kesal yang di alami
1.
Anjurkan klien untuk mengungkapkan
perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
2.
Bantu klien bermain peran sesuai
dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
3.
Bicarakan dengan klien apakah
dengan cara yang dilakukan klien masalahnya selesai
4.
Bicarakan akibat dan cara yang
dilakukan klien
5.
Bersama klien menyimpulkan akibat
cara yang digunakan oleh klien
6.
Tanya pada klien apakah ia ingin
mempelajari cara yang baru dan yang sehat.
1.
Bantu klien memilih cara yang
paling tepat untuk klien
2.
Bantu klien mengidentifikasi
manfaat cara yang telah dipilih
3.
Bantu klien untuk menstimulasikan
cara tersebut atau dengan role play
4.
Beri reinforcement positif atas keberha-silan klien menstimulasikan
cara tersebut
5.
Anjurkan klien untuk menggunakan
cara yang dipelajari saat jengkel atau marah.
1.
Jelaskan jenis-jenis obat yang di
minum pada klien dan keluarga.
2.
Diskusikan manfaat minum obat dan
kerugian berhenti minum obat tanpa seijin dokter
3.
Jelaskan prinsip benar minum obat (baca
nama yang tertera pd botol obat, dosis obat, waktu dan cara minum)
1.
Anjurkan klien minum obat tepat
waktu
2.
Anjurkan klien melaporkan pada
perawat atau dokter jika merasakan efek yang tidak menyenangkan
3.
Beri pujian jika klien minum obat
dengan benar.
|
F. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Waktu
|
Dx
|
SP
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
Selasa
15/01/13
17.00
17.00
|
1
|
SP 1
SP 2
|
1.
Membina hubungan saling percaya
dengan mengung kapkan komunikasi terapeutik
2.
Menyapa klien dengan ramah, verbal/non
verbal
3.
Memperkenal diri dengan sopan.
4.
Menjelaskan tujuan pertemuan
dengan lengkap
5.
Menanyakan nama klien dengan
lengkap.
6.
Mengatakan dengan jujur dan
menepati janji
7.
Menunjukkan rasa empati dan
menerima klien apa adanya.
8.
Memberikan perhatian kepada klien
dan perhati kan kebutuhan dasar klien
1.
Mengkaji pengetahuan klien tentang
perilaku kekerasan dan penyebab.
2.
Memberikan kesempatan kepada klien
untuk meng ungkapkan perasaan penyebab perilaku kekerasan
3.
Memberikan pujian terhadap
kemampuan klien memngungkap kan persaan nya.
|
S : Klien senang karena disapa oleh perawat.
O : - Klien mau berjabat tangan
- Klien mau
bercerita tentang diri nya
- Kontak mata
cukup
A : Klien mampu membina hubungan saling percaya,
SP 1 tercapai.
P : Lanjutkan SP 2, klien dapat mengidentifikasi
penyebab marah.
K :
Klien di minta untuk mencari penyebab marah.
S : Klien marah apabila keinginannya tidak
terpenuhi
O : - Klien
dapat mengungkap kan perasaan marah atau jengkel.
- Klien tampak
tegang tegangan dan tatapan mata tajam.
A : Klien mampu mengungkap kan penyebab marah
atau jengkel, SP 2 tercapai.
P : Lanjutkan SP 3, klien dapat mengontrol dan
penanganan perilaku kekerasan dengan cara sholat dan berdoa.
K : Klien diminta untuk mencari penyebab dan
tanda marah yang belum di ungkapkan
|
Rabu
16/01/13
12.30
|
SP 3
|
1.
Mendiskusikan bersama klien
tentang apa yang dirasakan saat klien marah
2.
Mendiskusikan bersama klien
tentang tanda-tanda perilaku kekerasan.
|
S : Klien saat marah akan berbicara dengan nada
tinggi, tangan mengepal, matanya menatap tajam, wajahnya tampak merah.
O : Pasien menunjukkan tanda-tanda :
a. Nada suara tinggi
b. Mata menatap tajam
c. Tangan mengepal.
A : Klien mampu mengidentifi kasi tanda dan
gejala saat marah atau jengkel. SP 3 tercapai.
K : Klien diminta untuk mengidentifikasi perilaku
kekerasan yang sering dilakukan.
|
|
SP 4
|
1.
Menganjurkan klien untuk
mengungkapkan perilaku kekerasan yang bias dilakukan.
2.
Membantu klien bermain peran
sesuai dengan perilaku kekerasan.
3. Membicarakan
dengan klien apakah dengan cara yang dilakukan oleh klien masalah akan
teratasi.
|
S : Klien akan marah-marah apabila keinginanya
tidak dipenuhi dan memukul pintu / jendela.
O : Klien tampak : tegang, tangan mengepal, mata
menatap tajam, wajah memerah.
A : Klien mampu mengungkap kan perilaku kekerasan
yang bisa dilakukan. SP 4 tercapai.
P : Lanjutkan SP 5, klien dapat mengungkapkan
perilaku yang sering dilakukan saat marah.
K : Klien diminta untuk mengingat kembali akibat
yang akan ditimbulkan.
|
||
Kamis
18/01/13
11.15
|
SP 5
|
1.
Membicarakan akibat atau kerugian
dan cara yang dilakukan kilen pada saat marah
2.
Menyimpulkan bersama klien akibat
dari cara yang digunakan oleh klien
3. Menanyakan
kepada klien apakah klien mau mempe lajari cara-cara yang baru dan sehat
|
S : Klien sangat menyesal dan ingin minta maaf
setelah dirinya marah – marah dan memukul ayahnya.
O : Klien tampak : sedih, ingin menangis, mata menatap
tajam, wajah memerah.
A : Klien mampu mengungkap kan akibat atau
kerugian dari perilaku kekerasan yang dilakukannya, SP 5 tercapai.
P : lanjutkan SP 6, klien dapat mengontrol
perilaku yang sering dilakukan saat marah.
K : klien diminta untuk berlatih mengontrol marah
dengan cara sholat dan berdoa.
|
|
12.00
|
SP 6
|
1.
Melatih klien mengontrol perilaku
kekerasan dan penanganan dengan cara sholat dan berdoa
2.
Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan.
|
S : Klien mengatakan jarang sholat dan merasa doa
nya tidak dikabulkan.
O : Klien tidak melaksanakan sholat dan berdoa.
A : SP 6 belum tercapai
P : Ulangi dan pertahankan SP 6,
K : Klien diminta berlatih untuk meminum obat
secara teratur
|
|
SP 7
|
1.
Melatih klien minum obat dengan
teratur
2. Menganjurkan klien
memasukkan dalam jadwal kegiatan
|
S : Klien mengatakan minum obat secara teratur
setelah makan.
O : Klien mau minum obat tanpa paksaan perawat.
A : SP 7 tercapai
P : Ulangi SP 6, dan pertahankan SP 1 – SP 7.
K : Klien diminta untuk mempertahankan apa yang
telah dilakukan tadi.
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perilaku kekerasan atau tindak kekerasan merupakan
ungkapan perasaan marah dan bermusuhan sebagai respon terhadap
kecemasan/kebutuhan yang tidak terpenuhi yang mengakibatkan hilangnya kontrol diri
dimana individu bisa berperilaku menyerang atau melakukan suatu tindakan yang
dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
B.
Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas saran yang dapat
kami buat yaitu untuk lebih memperdalam lagi tentang asuhan keperawatan dengan
resiko perilaku kekerasan dan perilaku kekerasan karena dalam makalah kami
tentunya masih banyak kekurangannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Direktorat Jendral Kes. Wa, 1998, Standar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa,
Edisi I, Direktorat Kesehatan Jiwa RSJP, Bandung
Keliat B.A, 1998, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, (Terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran
, EGC, Jakarta.
Maramis, WF. 1998. Ilmu
Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press. Surabaya.
Stuart G. W, Sundeen. S. J. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. (Terjemahan) Edisi 3, Alih Bahasa Yasmin
Asih, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
http://trihartonos.blogspot.com/2013/03/makalah-perilaku-kekerasan.html